Mengevaluasi kondisi keuangan keluarga penitng dilakukan. Hasil dari evaluasi ini akan memberikan pandangan yang mendalam tentang posisi financial keluarga untuk mengembangkan kebijakan dan rencana keuangan yang akan datang. Ada empat manfaat yang bisa kita dapatkan dengan melakukan evaluasi keuangan keluarga , antara lain :
- Memberikan informasi mengenai kondisi hutang saat ini sebagai dasar pertimbangan dalam mengambil pembiayaaan berikutnya.
- Mengetahui seberapa baik kinerja keuangan keluarga dan mengapa ?
- Apa saja kekuatan dan kelemahan posisi keuangan keluarga
- Perubahan-perubahan apa yang harus diambil untuk memperbaiki kondisi pada masa yang akan datang
Untuk melakukan evaluasi keuangan ada beberapa alat ukur atau kriteria yang digunakan yaitu
I. Ratio Likuiditas : mengukur kemampuan sebuah keluarga dalam memenuhi kebutuhan jangka pendeknya yaitu kebutuhan rutin bulanan yang lazimnya dibayar dengan tunai. Pengukuran likuiditas ini dengan cara membandingkan antara asset likuid dengan kebutuhan keluarga rata-rata satu bulan. Adapun yang dimaksud asset likuid adalah sejumlah dana yang ditempatkan dalam investasi yang konservatif sehingga jika segera diuangkan tidak kehilangan nilai pokoknya seperti tabungan, deposito, reksa dana pasar uang atau emas. Misalnya total asset likuid adalah sebesar Rp 10.000.000 dan rata-rata pengeluaran bulanan keluarga adalah Rp 5.000.000,-. Dari data ini maka rasio likuiditasnya adalah Rp 10.000.000 : Rp 5.000.000 = 2. Rasio ini menunjukkan keluarga Anda mempunyai persediaan uang tunai cukup untuk kebutuhan pengeluaran 2 bulan saja. Adapun ratio likuiditas yang disarankan adalah agar sebuah keluarga mampu menyediakan uang tunai untuk kebutuhan 2 – 6 kali rata-rata pengeluaran keluarga perbulan. Nilai dibawah itu akan menyulitkan keluarga jika terjadi kebutuhan darurat yang harus segera dibayar tunai. Namun jika nilai diatas angka ratio tersebut malah tidak efisien, sebab alokasi dana yang ditempatkan kedalam investasi yang konservatif bisa jadi terlalu banyak.
II. Ratio Leverage : mengukur sejauh mana pembelanjaan keluarga dengan menggunakan leverage ( pembiayaan dengan hutang) yang dibandingkan dengan kemampuan pelunasannya. Menggunakan hutang menimbulkan risiko karena hutang menimbulkan komitmen tetap berbentuk cicilan hutang (bunga dan pokok). Karena itu kegagalan memenuhi pembayaran tersebut dapat diasosiakan dengan kebangkrutan. Namun hutang yang dikelola baik justru akan memberikan potensi pertambahan harta kekayaan . Cara menghitung ratio leverage adalah dengan membandingkan total hutang dengan total asset . Misalnya total harta yang Anda miliki adalah Rp 200.000.000,- kemudian total hutang Rp 180.000.000,-. Dari data ini rasio hutang keluarga tersebut adalah Rp 180.000.000 : Rp 200.000.000,- = 0,9. Ini berarti 90% dari harta yang Anda miliki belum menjadi milik Anda sepenuhnya, tetapi milik pihak yang memberikan hutang. Hati-hati ! jika nilai ratio hutang melebihi angka satu, berarti Anda bangkrut. Selanjutnya hitunglah ratio kemampuan pelunasan hutang dengan membandingkan total cicilan hutang keluarga per bulan dengan penghasilan bulanan keluarga. Agar sebuah keluarga dapat melunasi hutangnya maka keluarga tersebut harus mempunyai penghasilan bulanan minimal 3 kali dari cicilan hutang bulanannya. Contoh, total cicilan hutang Rp 1.000.000,- per bulan, sedangkan penghasilan bulanan Rp 3.000.000,-. Maka ratio kemampuan pelunasan hutang adalah Rp 1.000.000,-: Rp 3.000.000,- = 0,3. Ini berarti jumlah cicilan hutang hanya memakan porsi 30% atau + 1/3 dari penghasilan bulanan. Sehingga masih tersisa 70% dari penghasilan bulanan yang dinilai cukup untuk digunakan memenuhi kebutuhan hidup lainnya. Jadi kurangi pembayaran cicilan hutang bulanan keluarga jika jumlah totalnya lebih dari 1/3 penghasilan bulanan
III. Ratio profitabilitas yang menjabarkan kemampuan keluarga untuk menghasilkan keuntungan dari investasi. Sebuah keluarga dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhannya saat ini, juga di masa depan. Menyisihkan pendapatan rutinnya sebesar 10% adalah standar jumlah minimal tabungan dan investasi yang harus dilakukan. Untuk mengetahui seberapa besar kemampuan alokasi pendapatan untuk kebutuhan masa depan ini, bandingkanlah jumlah tabungan dan investasi dengan pendapatan. Misalnya total tabungan dan investasi yang dilakukan secara rutin adalah Rp 500.000,- per bulan, pendapatan bulanan Rp 5.000.000,-, maka ratio kekuatan menabung keluarga Anda adalah Rp 500.000,- : Rp 5.000.000,- = 0,1 atau 10%. Nilai dibawah 10% menunjukkan kemampuan menabung & investasi keluarga masih dibawah standar, dengan demikian semakin besar besar nilai rationya semakin baik. Return investasi berupa bunga tabungan juga bagi hasil ( deviden) maupun selisih jual beli (capital gain) produk investasi merupakan penghasilan untuk Anda. Karena itu Anda juga perlu mengukur kontribusi tabungan dan investasi dalam menghasilkan pendapatan kembali untuk keluarga. Semakin besar kontribusi penghasilan dari tabungan dan investasi, semakin kecil ketergantungan Anda dari gaji. Bandingkanlah penghasilan dari investasi dengan kekayaan bersih ( harta-hutang). Misalnya jumlah harta Rp 200.000.000,-, hutang Rp 180.000.000,- sedangkan penghasilan dari tabungan dan investasi Rp 100.000,- per bulan, maka nilai kontribusi tabungan dan investasi terhadap penghasilan adalah Rp 100.000,- : ( Rp 200.000.000-Rp 180.000.000,-) = 0,005. Artinya penghasilan dari tabungan dan investasi hanya menyumbang 0,5% saja dari kekayaan Anda, sehingga ketergantungan dari gaji sangat besar. Secara bertahap berusahalah mengurangi ketergantungan dari gaji ini dengan memperbesar alokasi dana dan efisiensi kegiatan tabungan dan investasi , agar penghasilan dari tabungan dan investasi meningkat
Thursday, February 15, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment